Akikah, Pemotongan Rambut Bayi, dan Pemberian Nama

jasa aqiqah cukur rambut


Kelahiran seorang anak bagi sebuah keluarga akan menambah kebahagiaan dan kerukunan rumah tangga. Mengikut sunnah Rasulullah SAW mengadakan akikah dan memberikan dagingnya sebagai sedekah kepada tetangga akan menambah keberkahan dan lebih mempererat tali silaturahim. Mengadakan akikah juga merupakan cerminan rasa suka cita dan bahagia atas kelahiran seorang anak. Sabda Nabi SAW : “Barangsiapa yang dikaruniai seorang anak, lalu ia menyukmai hendak membaktikannya (mengakikahinya), maka hendaklah ia melakukannya.

1. PENGERTIAN AKIKAH 
Aqiqah berasal dari kata aqqa yang artinya memotong atau membelah. Ada yang mengungkapkan bahwa aqiqah artinya rambut yang tumbuh di atas kepala bayi sejak lahir. Ada lagi mengartikan bahwa aqiqah ialah nama kambing yang disembelih untuk kepentingan bayi. Adapun dalil yang menyatakan, bahwa kambing yang disembelih itu dinamakan aqiqah antara lain adalah hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bazzar dari Atha’, dari Ibnu Abbas secara marfu’ : “Bagi seorang anak laki-laki dua ekor aqiqah dan seorang anak perempuan seekor.”” Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan aqiqah diindonesiakan menjadi akikah adalah serangkaian ajaran Nabi SAW untuk anak yang baru lahir yang terdiri atas mencukur rambut bayi, memberi nama, dan menyembelih hewan.

2. HUKUM AKIKAH
Fukaha (ahli fikih) mempunyai pendapat yang berbeda-beda tentang hukum akikah sebagai berikut :
a. Segolongan fukaha, di antaranya para pengikut Daud az-Zahiri, Imam Hasan al-Basri, dan Imam Lais bin Sa’ad, berpendapat bahwa akikah adalah wajib.
b. Jumhur (mayoritas) ulama seperti Imam Malik, ulama Madinah, Imam Syafi’I serta para pengikutnya, imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), Ishaq, Abu Saur, dan segolongan besar ahli fikih dan mujtahid (ahli ijtihad) lainnya berpendapat bahwa hukum akikah adalah sunah.
c. Para fukaha pengikut Abu Hanifah (Imam Hanafi) berpendapat bahwa akikah tidak wajib dan tidak pula sunah, melainkan termasuk ibadah tatawwu’ (sukarela).

3. DASAR HUKUM AKIKAH 
Hadits-hadits yang menjadi dasar disyariatkannya akikah cukup banyak, antara lain :
a. Hadits riwayat Imam Ahmad : “Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan akikahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama.””
b. Hadits riwayat Aisyah r.a. : “Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami supaya menyembelih akikah untuk anak laki-laki dua ekor dan untuk wanita seekor.”
c. Hadits riwayat Aisyah r.a. yang lain : “Rasulullah SAW pernah membuat akikah untuk Hasan dan Husain pada hari ketujuhnya.”” (HR Ibnu Hibban, Hakim, dan Baihaqi)
d. Hadits yang diriwayatkan dari Salman bin Amar Adh-Dhahabi : “Sesungguhnya bersama anak itu ada hak diakikahi, maka tumpahkanlah darah baginya (dengan menyembelih hewan) dan buanglah penyakit darinya (dengan mencukur rambutnya).”” (HR Bukhari)
e. Hadits riwayat Abu Buraidah r.a. : “Akikah itu disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya.”” (HR Baihaqi dan Thabrani).
f. Hadist dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah bersabda : “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” [Shahih, Hadits Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya]
g. Hadist dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah bersabda : “Mengaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu kambing dan satu kambing.” [HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiqiel ‘Ied]
h. Hadist dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda : “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” [Sanadnya Hasan, Hadits Riwayat Abu Dawud (2843), Nasa’I (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (4/330), dan shahihkan oleh al-Hakim (4/238)]
i. Hadist dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia berkata : Rasulullah bersabda : “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya.” [Sanadnya Hasan, Hadits iwayat Ahmad (6/390), Thabrani dalam “Mu’jamul Kabir” 1/121/2, dan al-Baihaqi (9/304) dari Syuraiq dari Abdillah bin Muhammad bin Uqoil]

Dari dalil-dalil yang diterangkan di atas maka dapat diambil hukum-hukum mengenai seputar aqiqah dan hal ini dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat serta para ulama salafus sholih. Keterangan dari hadits-hadits di atas :
a. Menurut Imam Ahmad (juga Al-Khatabi dan Ibnu Al-Qayyim) maksud dari kata-kata “Anak-anak itu tergadai dengan akikahnya” ialah bahwa pertumbuhan anak itu, baik badan maupun kecerdasan otaknya, atau pembelaannya terhadap ibu bapaknya pada hari kiamat akan tertahan jika ibu bapaknya tidak melaksanakan akikah baginya.
b. Ibnu Al-Qayyim menegaskan, bahwa aqiqah itu berfungsi untuk melepaskan bayi yang bersangkutan dari godaan setan.
c. Jumlah hewan akikah untuk anak laki-laki dua ekor, sedangkan untuk anak perempuan seekor.
d. Tentang kapan sebaiknya akikah dilakukan ialah saat bayi berumur 7 hari. Namun jika hal itu tidak mampu dilaksanakan, maka boleh menundanya hingga bayi berumur 14 hari. Jika masih belum mampu juga, boleh dilakukan saat bayi sudah berumur 21 hari.

4. HEWAN UNTUK AKIKAH
Sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a., menyatakan : “Rasulullah SAW telah mengakikahkan buat Hasan dan Husain masing-masing satu ekor kibasy.”” (HR Abu Dawud). Dari hadits di atas bisa kita dapatkan petunjuk, bahwa jenis hewan untuk akikah sesuai dengan yang pernah dilakukan Rasulullah SAW adalah kibasy. Hewan sejenis yang bisa dipakai adalah kambing, domba/ biri-biri, sapi dan unta.
Syarat-syarat hewan yang bisa (sah) untuk dijadikan akikah itu sama dengan syarat-syarat hewan untuk kurban, yaitu :
a. tidak cacat,
b. tidak berpenyakit,
c. cukup umur,
d. warna bulu sebaiknya memilih yang berwarna putih.
Persyaratan tersebut sesungguhnya untuk melatih kita agar senantiasa memakan sesuatu yang terbaik, sesuai dengan firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”” (QS Al-Baqarah : 267).

5. JUMLAH HEWAN AKIKAH 
Dalam menentukan jumlah hewan akikah terdapat pula perbedaan pendapat dari para fukaha sebagai berikut : Imam Malik, berpendapat cukup satu ekor kambing, baik untuk anak laki-laki maupun untuk anak perempuan. Imam Syafi’I, Abu Hanifah, Abu Saur Ibrahim bin Khalid Yamani al-Kalbi, Abu Dawud, dan Ahmad bin Hanbal berpendapat untuk anak perempuan adalah satu ekor kambing dan untuk anak laki-laki adalah dua ekor kambing.

6. WAKTU PELAKSANAAN AKIKAH
a. Waktu Ada’
Waktu ada’ atau waktu yang paling tepat untuk mengakikahkan anak, yaitu hari ke tujuh dan kelahiran bayi pada saat bayi berusia tujuh hari, yakni bersamaan dengan acara mencukur rambut serta menamainya.
b. Waktu Qodha Akikah boleh dilaksanankan pasca pencukuran dan penamaan bayi. Di sisi lain hal itu mengisyaratkan bahwa sunnahnya akikah tidak akan gugur karena berlalunya hari ketujuh dari waktu kelahiran bayi. Artinya :”…(Kesunatan akikah) tidak gugur karena berlalunya hari ketujuh (dari kelahiran bayi).” (Kifayatul Akhyar jus II, hal. 243)

Pendapat (Qaul) mukhtar dari mazhab syafi’I menyatakan bahwa waktu pelaksanaan akikah masih berlaku pasca hari ketujuh dari kelahiran bayi, dengan urutan sebagai berikut :
1) Jika pada hari ketujuh belum mampu, akikah boleh dilakukan ketika masa nifas si ibu bayi berakhir.
2) Jika sampai nifas ibu bayi belum mampu, maka akikah dilaksanakan hingga berakhirnya masa menyusui.
3) Jika masa menyusui telah berakhir dan belum mampu mengakikahkan, maka akikah dilaksanakan hingga anak berusia tujuh tahun.
4) Jika usia tujuh tahun belum mampu akikah, maka akikahya sebelum anak dewasa (baligh).
5) Jika anak telah berusia dewasa, maka gugurlah kesunatan akikah bagi orang tuanya dan dipersilahkan anak mengakikahkan dirinya sendiri.

7. PEMOTONGAN RAMBUT BAYI
Mencukur rambut bayi sebaiknya dilakukan di hadapan sanak keluarga agar mereka mengetahui dan menjadi saksi. Boleh dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Atau jika tidak mampu, bisa diwakilkan kepada ahlinya. Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam mencukur rambut bayi, yaitu :
a. Diawali dengan membaca basmallah,
b. Arah mencukur rambut dari sebelah kanan ke kiri,
c. Dicukur secara keseluruhan (gundul) sehingga tidak ada kotoran yang tersisa,
d. Rambut hasil cukuran ditimbang dan jumlah timbangan dinilai dengan nilai emas atau perak kemudian disedekahkan kepada fakir miskin.

Ada beberapa dalil yang menjadi dasar sedekah cukuran rambut yang dinilai dengan emas atau perak, di antaranya :
a. Imam Malik meriwayatkan hadits dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya, ia berkata: ”Fatimah r.a. menimbang rambut Hasan, Husain dan Zainab, dan Ummu Kultsum, lalu berat timbangan rambut tersebut diganti dengan perak dan disedekahkan.”
b. Ibnu Ishaq meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Abu Bakar, dari Muhammad bin Ali bin Husain r.a., ia berkata, "Rasulullah melaksanakan akikah berupa seekor kambing untuk Hasan. Beliau bersabda, ‘Fatimah, cukurlah rambutnya’. Fatimah kemudian menimbangnya dan timbangannya mencapai ukuran perak seharga satu dirham atau setengah dirham.”
c. Yahya bin Bakr meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., “bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk mencukur rambut Hasan pada hari ketujuh setelah kelahirannya. Lalu rambutnya dicukur dan beliau mensedekahkan perak seberat rambut tadi.

8. PEMBERIAN NAMA 
Nama merupakan sarana yang mudah dan umum digunakan untuk mengenali seseorang dan memperlancar hubungan sosial. Namun demikian janganlah kita terjebak dengan suatu nama. Sebab, baik buruknya seseorang memang tidak terletak pada namanya semata, melainkan pada akhlak dan amal shalehnya. Dalam pandangan agama, nama juga berfungsi sebagai doa. Orang tua yang memberi anaknya dengan nama Muhammad atau Ahmad misalnya, itu merupakan doa semoga anaknya menjadi orang yang terpuji. Atau mudah-mudahan anak itu tersugesti untuk bersikap dan bertindak dengan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Tentang pentingnya pemberian nama yang baik Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak-bapak kalian, maka baguskanlah nama-namamu.”” (HR Muslim).

9. HIKMAH AKIKAH 
Di antara hikmah di balik pensyariatan akikah adalah sebagai berikut :
a. Akikah merupakan suatu pengorbanan yang akan mendekatkan anak kepada Allah di masa awal ia menghirup udara kehidupan,
b. Akikah merupakan tebusan bagi anak dari berbagai musibah, sebagaimana Allah telah menebus Ismail a.s. dengan sembelihan yang besar,
c. Sebagai pembayaran hutang anak agar kelak di hari kiamat ia bisa memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya,
d. Merupakan media untuk menunjukkan rasa syukur atas keberhasilan melaksanakan syariat Islam dan bertambahnya generasi mukmin,
e. Mempererat tali persaudaraan di antara sesama anggota masyarakat.
Dalam hal ini akikah bisa menjadi semacam wahana bagi berlangsungnya komunikasi dan interaksi sosial yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg02176.html
http://rumahsantri.multiply.com/journal/item/18
http://dreamcorner.net/catatan/religi/akikah-cukur-dan-pemberian-nama/
http://www.almizanaqiqah.com/apaituaqiqah.html
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/mozaik-fiqih/953-syariat-aqiqah
http://www.duadunia.net/aqiqah
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=856&bagian=0

sumber http://sigitrudiatwoko.blogspot.co.id/2011/03/akikah-pemotongan-rambut-bayi-dan.html